‘SENTILAN JEMARI TUHAN’ YANG BEGITU LEMBUT YANG MEMBUAT SWARA DWIPA MENANGIS HANYA KARENA MIMPI …

‘Subhanallah, Alhamdulillah …ya Allah, Engkau masih mau MENYAPA umat-Mu yang tak tahu diri ini’

Mungkin itu adalah satu-satunya kata yang saya ucapkan ketika mata saya pertama kali terbangun di pagi ini, tepat jarum jam menunjukkan angka 04.10 wib atau lebih lengkapnya hari Selasa, 01 Februari 2011. Mengapa ? Ada apa gerangan?

Yang jelas saya mungkin tak kan bisa berucap apa-apa atau harus bagaimana cara untuk mengungkapkan perasaan saya waktu beberapa detik yang lalu sebelum saya menuliskan catatan kecil ini. Yang jelas ada satu perasaan syukur yang luar biasa dalam dan untuk pertama kalinya saya menangis seumur hidup saya yang hampir 28 tahun ini (pada bulan Mei nanti) hanya karena sebuah mimpi …

Namun, jauh dari lubuk hati saya yang paling dalam, sebelum sahabat lebih jauh membaca catatan saya ini, saya Swara Dwipa memohon maaf dan maklum sebesar-besarnya kepada sahabat semua, jika mungkin saja catatan kecil ini begitu ‘norak’ atau bahkan sengaja terkesan dibuat untuk membuat atau memunculkan diri agar tenar. Sekali lagi bukan maksud saya demikian. Yang jelas, ketika saya terbangun dari mimpi saya malam ini, yang ada hanya bingung, seperti orang pikun, mau ngapain saya dan akhirnya kebuntuan fikiran saya segera membaur dalam tarian jari-jemari saya pada tuts keyboard di komputer di pojok ruangan tempat biasanya saya menghabiskan hari sambil bekerja sebagai freeland layouter/ atau kata orang ‘designer’, meskipun saya sendiri tak pernah merasa sebagai seorang designer. Mengapa ? Karena yang jelas saya tak pernah menempuh pendidikan/ kuliah di bidang itu, akan tetapi tepatnya saya mengatakan ‘TUKANG SETTING’ yang pada umumnya bergelut dengan dunia percetakan. Dan banyak orang menyamakan dengan Design, padahal jelas berbeda meski mirip keadaanya. Ya sudahlah, lha kok malah berpanjang lebar tentang saya. Yang jelas intinya saya minta maaf dan pengertian atas kemakluman dari sahabat semua akan isi dari catatan kecil saya ini.

Terlepas dari bagaiman atau seperti apa ‘sih’ kekuatan mimpi saya itu kok bisa membuat saya Swara Dwipa yang ‘notabene’ pernah ‘hancur-hancuran, sok cuek,’ ini sampai menangis, dalam hal ini hanya karena ‘mimpi’. Saya akui saya sering menangis, meski hanya dalam bathin, karena yang namanya ‘derita’, entah itu yang datang kepada saya dan keluarga sendiri ataupun hanya sekilas, seolah turut merasakan ketika ada orang lain di luar sana sedang mengalami penderitaan. Entah apa namanya itu, kalo nggak salah ’empati, ya…’ tapi pada mulanya saya menganggap itu seperti sebuah penyakit karakter, karena sering saya menempatkan posisi saya ‘seandainya, semisalnya, …’ pada kondisi orang lain itu yang mungkin tengah mengalami satu bentuk kesusahan.

Singkat cerita, malam tadi, saya mandi sekitar jam 00.30 wib. Lha kok !!! Ntar dulu jangan ‘parno’ dulu ! Yang saya rasakan malam tadi kayaknya saya begitu lelah, sampai-sampai untuk melihat teman sejati saya saja (komputer bwt kerja), sebegitu malesnya. Yah setelah seharian dimintai tolong teman2 untuk mengerjakan PR seputar percetakan, ya mbenerin komputer temen yang rusak lah, ha..ha…ya maklum, siapa lagi teman-teman saya kalo bukan sesama orang percetakan di Kalimalang – Jakarta Timur ini khususnya di komplek pusbinal Cipinang Melayu ini. Lha ntar kalo temen saya para pejabat malah dikirain yang ngga2 sama tetangga sekitar …ha..ha…

Selanjutnya setelah mandi, saya merasakan segar (maklum, … saya jarang mandi…hi..hi..) padahal itu hanya berlangsung sesaat, terlebih 1/4 jam kemudian saya merasakan badan saya ini demam tinggi dan rasa-rasanya mau tanggal semua persendian saya. Belum lagi kepala saya (penyakit lama) ini mendadak pening luar biasa, dan seperti biasa, 4 butir Paramex langsung mengisi perut saya (sahabat jangan heran, ini mungkin efek dari saya dulu yang pernah nge-drugs). Lalu saya rebahkan tidur di gudang kertas yang memang menjadi kamar saya di tempat kerja saya, ha..ha.., tempat yang romantis buwat berhayal dan bermimpi … Dan … tak lama kemudian saya pun larut dalam ketidak berdayaan saya ketika harus secara suka rela membiarkan sukma saya ini melayang-layang kemana-mana, menjelajahi dunia mimpi tanpa satu pun kendali dan kuasa saya untuk menolaknya. Lalu apa yang terjadi ….. ??

Sesaat saya seperti berada pada satu tempat yang demikian asing bagi saya. Ada danau hijau lumut di depan saya, kemudian pohon-pohon yang kuning aneh, dan anehnya lagi rumput yang saya injak seolah tak berasa, saya seperti sedang mengambang di udara.

Lalu bagai sebuah menonton bioskop, mendadak danau yang terpampang di depan saya berubah menjadi gambar saya yang mohon maaf sekali lagi sangat asing !!! Di sana saya bagai disuguhkan satu kejadian dimana terlihat saya sedang duduk bersama dalam satu bale (meja/bangku tempat duduk memanjang yang terbuat dari bambu yang kering) bersama seorang gadis, yang tak tahu siapa dan darimana dia. Pokoknya tahu-tahu dia sudah ada bersama saya. Lalu adegan itu hilang lagi berganti satu pemandangan dimana seolah-olah saya sedang menonton adanya film dokumenter saya pribadi yang kemudian membawa saya dalam keadaan seolah-olah saya sedang bermanjaan dengan seorang gadis, bagitu mesra bagai sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Dan saya merasakan begitu hangat suasana itu, yang ada perasaan berbunga-bunga, bahagia, tenang dan damai. Apalagi saat bersama gadis itu, yang jujur saya akui cantik ..!

Kemudian layar maya itu berganti, ketika benar-benar saya dibawa dalam satu kondisi saya dikenalkan pada sosok orang tua yang tak tahu siapa mereka. Ada bapak-bapak setengah baya (kurang lebih 48 tahunan umurnya) dan juga seorang ibu, juga setengah baya (kurang lebih 42 tahunan umurnya), dan tentunya gadis cantik di samping saya yang dengan mesra mengenalkan saya pada sosok yang kelihatanya adalah orang tuanya. Sambil menggandeng mesra tangan saya dia tampak berbisik-bisik kepada sang bapak, lalu kepada sang ibu. Sementara saya terdiam berdiri masih jg tak mengerti, mencoba mengingat, siapa mereka.

Lalu, perlahan sang bapak itu mendekati saya, menjabat tangan saya dengan hangat lalu dengan rangkulan erat layaknya orang yang baru berjumpa setelah lama berpisah dia menepuk-nepuk punggung saya. Dan sekali lagi, saya merasakan damai yang belum pernah saya rasakan sebelumnya di dunia nyata, maaf bahkan ketika memori kuat saya mencoba menghubungkan masa kecil dan remaja saya saat masih bersama orang tua kandung saya sendiri di kampung dalam kehidupan nyata.

Dan kejadian itu berlangsung dalam perasaan saya begitu lama, dengan diselingi canda tawa mereka bertiga, obrolan hangat yang saya (waktu menulis  catatan ini) sama sekali tak bisa mengingat apa yang mereka obrolkan. Yang jelas mereka menyambut dan menerima saya layaknya seorang keluarga, atau bahkan lebih. Sementara si gadis jelita itu (subhanallah, setiap saya mengingat tentang gadis itu, yang ada hanya kekaguman akan kecantikannya) duduk berhadapan di samping kira saya dan Bapak Ibu itu di depan saya.

Lalu tak lama kemudian, … terdengar suara pintu depan diketuk pelan, namun berulang-ulang. Dan pada akhirnya sebuah sapaan permisi “assala’mu alaikum” terucap dari sebuah suara perempuan di luar sana, dan sesekali ada rengekan suara bayi tampaknya sedang meronta entah apa maunya.

Lalu … sang gadis cantik di depan saya mohon pamit untuk membukakan pintu.

Sekilas dan tahu-tahu saja, tanpa saya tahu proses berikutnya … (tentunya dengan perkenalan seorang tamu kepada yang punya rumah, bapak atau ibu tadi) tahu-tahu di depan saya telah duduk bersimpuh seorang perempuan (dan yang ini tak kalah cantiknya dengan gadis pertama tadi anak tuan rumah) namun dengan seorang anak kecil manis yang luar biasa lucunya, cantiknya, imutnya … dengan dua bola mata yang bening, sembari menatap saya tak henti-hentinya dengan gaya balita berumur 8 bulanan, kulit putih bersih, dan luar biasanya senyum lucu yang menggetarkan hati saya lebih dari apapun yang pernah saya lewati di dunia ini.

Subhanallah. (Mulai detik sebait paragraf di atas , demi Allah SWT … mata saya berkaca-kaca sambil terus mengetik catatan kecil saya ini). Betapa tidak. Dua sosok tubuh di depan saya yang bersimpuh di kaki saya adalah Orang-orang yang amat saya cintai di dunia ini bahkan seringnya kecintaan saya kepada mereka melebihi kecintaan saya kepada kedua orang tua saya sendiri. ( Ini mungkin kelemahan saya dan maaf mohon jangan dinilai terlalu cepat, karena ada latar belakang kenapa saya bisa begitu ).

Yah, mereka tak lain dan tak bukan adalah Istri saya, Putri berdarah Batak Toba yang rela meninggalkan jalinan atau ikatan keluarga Nasrani yang terkenal begitu kolot, juga rela meninggalkan Keyakinan sedari lahir untuk kemudian memilih jalan Memeluk Islam hingga mungkin awal-awalnya sempat tidak diakui oleh keluarganya sendiri, hanya karena menentukan pilihan atas hidupnya, atas masa depannya untuk memilih saya yang tidak ada apapun kelebihan dari yang lainnya. (Dan air mata saya semakin deras berlinang, rasa-rasanya tak kuat saya melanjutkan untuk menulis catatan ini)

Perempuan yang tak lain adalah Istri saya itu tampak hanya diam, tak berkata apapun, juga tak perdulikan anak kecil di sampingnya yang juga luar biasanya hanya diam, sambil tak lepas-lepasnya memandang saya seolah ada pesan yang hendak disampaikan.

Dan mendadak keheningan itu pecah, ketika sebuah ratapan yang amat sedih keluar terbata-bata dari mulut perempuan istri saya itu, “Bapaknya April, … maafkan aku, istrimu ini yang sudah lupa sama sekali tak menghargai mu sebagai seorang kepala rumah tangga sekaligus suami dan bapak dari anakmu ini, Aprilia Ronauli. Yang selama ini sudah mengedepankan kepentingan saya sendiri, selalu menuntut dan tak pernah memikirkan-mu yang mungkin kelaparan waktu bekerja di Jakarta, karena tinggal sendirian, juga sifat burukmu yang lupa ketika sudah menenggak secangkir kopi manis dan sebungkus rokok yang menjadi pengganti makan dan konsumsi rutin perutmu. …… (berhenti)

Sampai akhir kata-kata isteri saya itu, saya bagai anak kecil yang ditinggal pergi orang tuanya secara diam-diam; menangis tapi tak keluar suara, hanya ada air mata mengalir jatuh di celana hitam saya sementara mereka berdua (anak dan istriku) masih bersimpuh memegang erat kaki ini. (Ya Allah … Kuatkan hati saya untuk bisa melanjutkan menulis catatan kecil ini ….). Ingin rasanya tangan ini membelai rambut isteri saya yang sedikit tersingkat di balik kerudung putihnya, terlebih ketika melihat wajah imut putri pertama saya, Aprilia Ronauli, ingin rasanya saya mengendongnya, menciuminya dan menggodanya biar dia merengek menangis seperti biasanya karena gemasnya saya, … tapi semua itu bagaikan terpisah waktu ribuan tahun lamanya. Mereka seolah-olah sangat jauh, meski paling tidak jarak mereka cuma 1 cm tidak ada, tapi setiap tangan saya ingin meraih mereka mereka bagi mengecil dan sama sekali tak bisa saya pegang.

(setelah tadi minum kopi, istirahat sebentar menghirup udara sekitar kantor tempat saya bekerja sekaligus tempat tinggal yang memang masih banyak pepohonan di kiri kanannya, juga ada sebuah empang kecil milik warga yang dijadikan sebuah pemancingan gratis … rasanya sedikit ada pengobat tentang mimpi saya tadi malam). (08.45 wib: …/ saya sudah berada di depan komputer saya lagi. Kali ini tambah bingung, coba buka file sisa kerjaan; tambah pusing kemana-mana, tapi 1 1/2 jam ga ada hasilnya) akhirnya saya lanjutkan saja menulis tentang ‘mimpi’ yang semalam sempat ‘menyentuh’ hati saya (saya pikir daripada lupa, ntar2 akhirnya jadi mengada-ngada; percayalah sahabat …!! hanya saja memang penyampaian kata-kata saya, mungkin … mirip novel atau cerita).

(sejenak hening; sementara dadaku makin sesak, mencoba menahan tangis sebisa mungkin, tapi akhirnya tak kuasa juga). Kata-kata istriku yang terbata-bata rasa-rasanya seperti petir yang menggelegar memekakkan rongga hati yang rasanya memang dipenuhi rasa rindu tak tertahan sudah ingin saja memeluk mereka tanpa memikirkan sekitar saya, dimana ada sang gadis cantik yang berdiri di samping ibu bapaknya; kali ini dengan muka yang tak ceria lagi, setengah sedih (seolah larut turut merasakan) dan setengahnya lagi, bingung apa yang harus dilakukan. Tentunya ini tak lepas dari perasaan sesama wanita. Tapi ada yang aneh, dan benar-benar aneh. (hingga sampe saat tulisan kedua ini saya lanjutkan, jujur ‘aneh’ itu belum hilang). Lalu dimana anehnya ?

Coba saja sahabat pikir, dari alur mimpi yang saya alami jelas ada asmara yang salah sasaran, dan tahu-tahu (seperti tulisan sebelumnya) kami sudah dalam suasana yang dilanda asmara, lha kok ada wanita yang sedikitpun tak marah, melihat pria yang dicintainya, bahkan sudah diperkenalkan kepada orang tuanya, dan mereka menerima dengan hangatnya, trus tiba-tiba juga muncul isteri dan anak saya … kok ga ada sedikitpun rasa amarah, kecewa, jengkel atau merasa dibohongi (ternyata saya sudah punya istri) … khan bingung …?

(kembali ke dalam mimpi saya) …

… lalu saya tinggalkan tanda tanya itu, di sela-sela kebingungan saya apa yang harus saya lakukan ? (lalu yang saya rasakan di mimpi saya … perasaan jadi hening…, rasanya lamaaaa sekali …). Sampe akhirnya … “BOHA KABAR-MU, dhik (apa kabarmu dhik) …?” kata-kata itu meluncur saja dalam logat saya (sekarang banyak orang g percaya saya ini orang jawa; disangka orang BATAK asli). “DANG ADONG salahmu, Dhik” (ndak ada salah di kamu, Dhik)…lanjut saya, kalo kamu berkata begitu (kali ini saya sudah tidak memperdulikan lagi sekitar saya, hingga tak sungkan-sungkan saya mulai terisak dan mengusap air mata saya … sambil mencoba menggapai terus mereka / anak dan isteri saya; tapi tetap tak bisa), sebenarnya apa yang hendak kau hinakan padaku, suamimu ini !” (… lalu pecah sudah tangisan saya, tanpa harus menunggu isteri saya menjawab …) dan hening … sepi…, lalu kembali Bioskop itu perlahan-lahan hilang dan gelap…(untuk beberapa lamanya, dalam perasaan saya … hanya gelap).

Dan tiba-tiba saya sudah berada pada suatu suasana yang aneh … (sekali lagi … dalam mimpi saya, maksudnya). Mereka (gadis cantik, bapak dan ibunya juga kini perlahan-lahan fisik tubuhnya berubah).

(Sang Gadis Cantik …) Sosoknya berubah menjadi seorang anak kecil umur 12 tahunan berwujud perempuan (saya tak mengenalnya) tapi merasakan bahwa saya begitu dekat dengan dia. Yang membuat saya kaget adalah suaranya; ya suaranya adalah suara saya, … suara laki-laki. (dan setelah bangun saya baru teringat bahwa gadis ini adalah gadis yang pernah menemui saya, dalam wujud mimpi juga 3 tahun lalu sebelum saya kecelakaan/ tabrakan di daerah Cawang; setelah UKI arah Rawamangun – Pulogadung; yang membuat saya lumpuh tak bisa berjalan hampir 1 bulan dan bahkan sempat dinyatakan mati sama tukang ojek yang menolong saya; gadis inilah yang dalam kehidupan nyata pernah saya tanyakan kepada Bapak dan Ibu saya di kampung ternyata adalah BENAR adik kandung saya dalam istilah ORANG JAWA TIMUR-an dikenal sebagai LAS (bayi yang keguguran dalam kandungan) dan diyakini besar dan tumbuh di dunianya sama seperti anak yang tumbuh di dunia nyata. Subhanallah …!! Ada apa ini, Bismillahirrahmanirrahim, “Kepada Ya Allah dimana Hamparan Kekuasaan dan Keperkasaan-Mu tiada tandingannya, aku berlindung”.

( Sang Bapak dan Ibu setengah baya … ini yang membuat saya semakin bergetar dan menangis dalam mimpi saya sejadi-jadinya ) Sosok mereka tak lain dan tak bukan adalah orang tua saya sendiri; yang sering saya lupakan, yang kasih sayang saya harusnya lebih kepada mereka, tapi malah saya nomor duakan untuk isteri dan anak saya; yang seharusnya paling tidak minimal seimbang. Mereka memasang muka sedih menghiba seolah hendak menyapa saya dan tidak seperti pada ‘layar sebelumnya’ dimana tadinya mereka bisa saya sentuh untuk berjabat tangan dan sang bapak yang memeluk saya seperti anaknya sendiri; kali ini tidak; mereka seperti jauh terpisah oleh dimensi yang berbeda sehingga tak tersentuh; begitu juga dengan sang gadis cantik tadi yang kini berubah menjadi gadis kecil dengan suara laki-laki.) Saya menangis sejadi-jadinya dalam mimpi saya, sembari terus mencoba untuk meraih mereka; bapak dan ibu saya juga anak kecil tadi … tapi semakin saya mendekat semakin mereka jauh, semakin jauhhhhh… sekali.

( Terakhir istri dan anak saya) … Mereka tetap sama seperti pada awalnya muncul, tak ada perubahan fisik, hanya saja mereka sama seperti ketiga orang sebelumnya lama-lama perlahan tapi pasti mereka memudar dan meremang lalu tak berapa lama kemudian menghilang. ( Untuk kesekian kalinya saya menangis sejadi-jadinya, terlebih ketika melihat hilangnya bayangan anak saya yang masih sempat mencoba merengek; yang tadinya diam, kini meronta ingin meraih tangan saya, sepertinya tak mau berlalu bersama ibunya, oh… April apa yang sebenarnya hendak kamu katakan, Nak. Andai saja bahasa mu dapat saya mengerti …

Kini tinggallah saya sendirian dikurung kegelapan, keheningan dalam mimpi saya. Tak tahu rasanya berapa lama keheningan itu, sementara saya masih saja sesenggukan menangis dan sekali-kali meraung seperti orang gila mencoba mencari dimana keberadaan semua orang tadi ….

Tiba-tiba semua menjadi terang; tapi masih dalam mimpi) Tampak sebuah pemandangan yang membuat saya iri dan terus dihantui pertanyaan juga rasa bersalah. Mengapa? Semua yang tadi hilang kini tlah kembali, tapi mereka seolah tak perdulikan saya yang sesenggukan dalam tangisan. Anak saya tampak tersenyum digendong eyang kakung dan eyang putrinya, bapak ibu saya, sementara Istri saya bergandengan dengan gadis kecil tadi (adik LAS) yang tak lain adalah adik kandung saya sendiri yang sesuai namanya diberi nama ANIAS DWILOKA (intinya ada kata Dwi yang berarti dua; dan inilah yang meyakinkan saya akan kebenaran penuturan Bapak saya, bahwa memang masih ada adik ghoib saya yang hidup di alam yang berbeda, dan ini dipegang teguh oleh Orang-orang kami (jawa). Dan oleh sebab itu juga adik saya yang kedua (laki-laki) yang seharusnya dari urutan nama mendapatkan imbuhan ‘DWI’ dilewatkan saja karena ada kakaknya sebelumnya dan namanya jelas : PUTUT TRIA ANDIKA (ada kata TRI = 3).

(gubrakkk….terdengar suara dari ruang mesin di belakang yang mau tak mau membuyarkan mimpi saya, dan lalu terbangun). Saya berjalan ke belakang dan melihat kondisi; sempat merinding sih, karena biasa ‘mereka-mereka’ adalah teman-teman setia saya juga ha..ha..; yang saya yakini selama keteguhan iman kita dan tidak ada rasa takabur, tentulah kita akan sanggup mengatasi rasa ketakutan seperti pada hal-hal goib macam itu. Dan ini sudah saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya.

(berjalan ke belakang, mengambil air dari keran dan mencuci muka dan sebagian rambut ini; sedikit masih terasa badan saya yang sakit semalam, terutama kepala saya yang masih nyeri). Lalu kuambil sebatang samsu dan kuhisab pelan-pelan.

Belum juga habis 1/4 batang rokok saya, seperti orang kesurupan, mendadak saya menangis tak tahu kenapa sebabnya, seolah ada perasaan SEPI YANG LUAR BIASA, perasaan ASING sama seperti mimpi saya barusan, yang akhirnya menuntun langkah saya untuk keluar kantor dan seperti biasanya menikmati malam yang hampir pagi di luar sana, sambil merasakan desah sang angin yang begitu bersahabat, dingin menyentuh hati saya yang bimbang, sedih tak karuan.

( di luar kantor ) Inilah sebenarnya inti dari segala tulisan saya yang panjang lebar tadi. Sebelumnya maaf bagi para sahabat yang mungkin bosan karena tulisan saya yang kepanjangan ataupun urutan kronologisnya yang membuat bingung tapi begitulah sebenarnya yang saya alami tadi malam.

Setelah hampir 10 menit diluar saya sudahi sedih dan saya usap air mata saya. Ternyata semua jelas sudah, inilah yang maksud “SENTILAN JEMARI TUHAN”. Dan jauh saya bersyukur kiranya hati dan langkah saya yang sempat serong salah arah ternyata telah diberikan ‘sedikit batu sandungan’ oleh Allah Tuhan Semesta Alam, lewat mimpi.

BETAPA TIDAK, kata-kata isteri saya ‘SEBENARNYA ADALAH SINDIRAN’ kepada saya dan yang dapat saya petik adalah ‘BEGITULAH SEHARUSNYA SUAMI/ISTRI: BERANI UNTUK MENGAKUI KEKHILAFANNYA, DAN JUGA BAGI SUAMI SEHARUSNYA MEMBUKA LEBAR-LEBAR PINTU MAAF ATAS KHILAH SEORANG ISTRI DALAM RUMAHTANGGANYA’ saya yang telah lupa dimana seharusnya saya berada di waktu malam, bukan di depan komputer menghabiskan umur saya, lalu mencoba menyenangkan orang lain (padahal intinya juga menyenangkan pribadi saya dalam hal ini hobi saya), lalu berkutat pada yang namanya ‘ILMU’ yang lupa menempatkan dalam pencariannya, ya kalau saya ini masih bujangan tidak apa-apa, tapi saya ini sudah berkeluarga punya tanggungan sekaligus amanah baik itu dari orang tua saya sendiri ataupun orang tua kedua saya yaitu mertua yang juga memiliki pesan yang sama ” JANGAN SAMPAI KAU SIA-SIAKAN PENGORBANAN ISTRIMU, HELA (mantu), Kami para orang tua bisanya hanya mendoakan semoga dinaungi kebaikan bagi kalian dalam mengarungi PERAHU YANG NAMANYA RUMAH TANGGA, DAN PERAHU RUMAH TANGGA ITU KADANG KALA DIHANTAM OMBAK YANG BEGITU DAHSYAT, TAPI JUGA SERINGNYA CUMA RIAK-RIAK KECIL yang MEMBUAT KITA ASYIK BERGOYANG DALAM PERAHU”, sungguh nasihat yang tiada ternilai harganya …. dan juga AMANAH YANG TERPENTING DARI ALLAH SWT, bahwasannya MENJADI ‘IMAM’ BAGI KELUARGA ITU SESUNGGUHNYA TERAMAT BERAT. Dan yang terakhir adalah TEGURAN tentang “CINTA” yang haqiqi itu sebenarnya untuk siapa yang utama. Bukan untuk keluarga, bukan untuk orang tua, tapi yang pertama adalah UNTUK-NYA TUHAN YANG MENCIPTA KITA DENGAN SEBEGITU SEMPURNA. Subhanallah. Bayangkan dan mari kita mengakuinya, kadangkala CINTA kita pada kekasih, orang tercinta, atau cinta pada yang lainnya, sering melupakan CINTA kita pada-Nya. Kurang lebih begitu bukan, hayo…jujur saja…!!!

(Selesai) Demikian sahabat, tidak bermaksud menggurui, hanya berbagi tentang apa yang saya alami, bahwasannya kadang kala Tuhan ‘MENYENTIL’ kita dengan hal-hal kecil, tapi sangat dalam MAKNA DAN ARTINYA. CINTA ORANG TUA, CINTA KEKASIH BILAHAN JIWA, tidak dilarang, TAPI PANDAI-PANDAILAH MENEMPATKAN !!! Jangan Sampai Menduakan CINTA YANG UTAMA, yakni Cinta kepada-NYA. Amin. Semoga sahabat semua senantiasa dinaungi petunjuk oleh-Nya.

Semoga cerita dan pengalaman saya dapat diambil hikmahnya. …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s