Archive for the ‘Rakyat Kecil’ Category


 

Lagi2 Wong Alit Yang Kena Imbasnya - Masa Warteg KENA PAJAK, Icon Murah Jadi Mahal Donk ... duh wong alit !!

Mulai 1 Januari 2011 makan murah di Warung Tegal (Warteg) tak akan dijumpai lagi. Pasalnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta mulai memberlakukan pajak restoran dan rumah makan sebesar 10 persen.  Warteg menjadi sasaran penerimaan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pajak. Usulan pengenaan pajak warteg ini telah disetujui DPRD DKI Jakarta, dan akan diatur dalam peraturan daerah yang saat ini sudah masuk di Badan Legislatif Daerah (Balegda) DKI Jakarta dan sedang menunggu penomoran.

Kepala Bidang Peraturan dan Penyuluhan Dinas Pelayanan Pajak DKI Jakarta, Arif Susilo, mengatakan pemberlakuan pajak warteg sebesar 10 persen, karena jenis usaha ini sudah masuk dalam prasyarat obyek pajak yang diatur dalam Undang-Undang No 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Namun, obyek pajak yang masuk dalam wajib pajak itu adalah usaha penyedia makanan dan minuman yang memiliki penghasilan Rp 60 juta per tahun.

“Mulai Januari 2011, harga setiap makanan dan minuman yang ada di warung tegal akan menjadi lebih mahal, karena dikenakan pajak sebesar 10 persen dari harga biasanya,” kata Arif Susilo, Rabu (1/12/2010). Dia memprediksikan dengan menerapkan pajak dari jenis usaha warteg, potensi pajak yang akan didapatkan akan bertambah Rp 50 miliar. Terlebih, saat ini, jumlah warteg di Jakarta sudah mencapai 2.000. Namun, belum bisa ditemukan jumlah warteg yang penghasilannya di atas Rp 60 juta ke atas atau di bawahnya per tahun. Karena itu, Arif menegaskan, Dinas Pelayanan Pajak DKI akan mengklarifikasi warteg, dengan melakukan pendataan warteg yang memiliki penghasilan Rp 60 juta ke atas dan di bawah Rp 60 juta per tahun. Setelah didapatkan data tersebut, akan dilakukan sosialisasi kepada asosiasi pengusaha rumah makan warteg.  (lebih…)

Iklan

Doa dibalik Renungan Bencana Merapi 2010

Sejak letusan pertamanya pada tanggal 25 Oktober, Gunung Merapi di Indonesia terus memuntahkan gas panas dan abu sejauh 5.000 meter ke udara, mendatangkan malapetaka di desa-desa sekitarnya, mengganggu arus lalu lintas perjalanan darat maupun udara dan lebih dari 140 orang telah menjadi korban selama hampir 3 bulan sejak meletusnya Gunung yang menyimpan aura supranatural di Tanah Jawa itu. Ratusan ribu penduduk telah mengungsi, banyak dari mereka tinggal di tempat penampungan sementara sampai pemerintah Indonesia menerapkan jarak 20 km “zona aman”, dan memungkinkan mereka dan ternak mereka untuk kembali.

Namun seperti kata orang bijak, bahwasannya setiap adanya bencana atau musibah dibaliknya pasti ada hikmah yang bisa dipetik. Mungkin ini adalah salah satu ujian dan cobaan yang diberikan Allah SWT, Tuhan yang Maha Mengerti Apa Yang Patut dan Tidak Sepatutnya diberikan atas segala perbuatan umatnya. Renungan, kesabaran, ketabahan sudah pasti bisa dipetik dari semua tragedi itu. Perlu kearifan dalam memperlakukan Alam beserta isinya yang tlah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, agar digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan umat manusia. Kebersamaan dan solidaritas sebagai sesama makhluk Tuhan dengan mengedepankan kasih sayang, perduli sesama hendaknya menjadikan pelajaran yang mendalam bagi kita semua, khususnya masyarakat Indonesia dan umumnya seluruh umat manusia.

Do'a di balik musibah para korban Bencana Merapi di Tenda-tenda Pengungsian

Napak Tilas ini sekaligus sebagai sarana untuk semua para pembaca SerbaRagam ini, mari sejenak kita menyatukan rasa dalam keheningan DOA BERSAMA bagi saudara-saudara kita yang menjadi korban dari Bencana Merapi. Semoga Allah SWT, Tuhan Semesta Alam menerima mereka di sisinya dengan segala pengampunan atas segala khilaf dan dosa selama hidup di dunia. Dan bagi mereka-mereka yang menjadi sanak famili, handai taulan yang ditinggalkan diberikan kelapangan dan kesabaran serta ketetapan iman bahwasannya semua yang terjadi adalah Hanya Karena Kuasa-Nya dan diperuntukkan bagi kita semua, tak lebih dan tak kurang, YA.. HANYA KARENA KUASA-NYA SEMATA, bukan KARENA YANG LAIN. Amin.

Foto-foto berikut ini menunjukkan kepada kita semua akan sebuah perenungan, bahwasanya Tuhan dengan Segala Kuasanya menjadikan apa yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin di Alam Semesta ini. Teguran, Peringatan atau Ujian bagi hamba-hambanya yang bertaqwa kadang kala menyisakan duka dan linangan air mata. Semoga dapat dijadikan perenungan dan dapat diambil hikmahnya.


FOTO-FOTO LETUSAN GUNUNG BERAPI DARI BERBAGAI SUMBER


Semburan lava dan abu dari puncak Gunung Merapi, dilihat dari Kabupaten Klaten di propinsi Jawa Tengah sebelum fajar pada tanggal 6 November 2010

 

Seorang petani  di Klaten, Jawa Tengah pada  4 November 2010 sempat menyaksikan dari sawahnya material vulkanik Gunung Merapi yang meletus. Lebih dari 70.000 orang kini telah dievakuasi dari zona bahaya yang diperluas hingga  lebih dari 15 km dari area yang bisa tercapai abu dan material vulkanik Gunung Merapi.

 

(lebih…)


 


Situasi di penampungan saat menunggu sponsor

Bagi TKI, tinggal di penampungan milik PJTKI memberi harapan akan segera dialokasikan di tempat kerja. Tapi belum sempat berpikir tuk sampai di tempat tujuan saja selama di penampungan, penyiksaan bisa jadi sudah dimulai. Beberapa tempat penampungan TKI tak ubahnya seperti penjara.

Namun meskipun keberadaan lokasi penampungan PJTKI umumnya membaur dengan masyarakat, banyak warga yang tak tahu kegiatan atau apa saja yang dilakukan. Apa sebetulnya yang terjadi di tempat penampungan bagi TKI? Sumber berita ini kemudian melakukan reportase di salah satu PJTKI di wilayah Ciracas, Jakarta Timur.

Bangunan bertembok hijau dengan pagar setinggi dua meter itu adalah tempat penampungan sementara TKI. Di papan depan, tertulis PT Andromeda Graha. Letaknya di Ciracas, Jakarta Timur. Di depannya ada satpam, memastikan tak sembarang orang masuk. Warga baru tahu bangunan tersebut digunakan sebagai tempat penampungan TKI. Dulu ketika pengelola meminta persetujuan warga, warga hanya memberikan persetujuan, warga tak memberikan persetujuan itu, namun pada kenyataannya kegiatan penampungan TKI terus berlanjut.

PREMANISME

Haruman, warga yang tinggal di seberang bangunan itu, sempat protes karena menggunakan jalan sempit depan rumahnya untuk latihan mengemudi para TKI. Gara-gara protes, Haruman malah dikirimi preman. Akibatnya Haruman pun babak belur di di keroyok preman tersebut dan terpaksa beberapa hari harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Warga juga sering mendengar suara TKI yang menangis atau menjerit histeris. Meski menganggu kenyamanan warga, Ketua RT Sarno mengaku tak bisa berbuat apa-apa. “Warga ga ada masalah. Orang urusannya dari PT. Kalau misalnya ada kejadian, itu warga sini tak ada masalah. Itu bukan tanggung jawab RT,  itu urusan PT. RT tak bisa bikin apa-apa.” (lebih…)


Uang memang bisa membutakan semua

Orang miskin ternyata lebih berempati dan dermawan dibanding orang kaya. Hal ini telah dibuktikan oleh sebuah studi dan dipublikasikan dalam Psychological Science.

Dalam serangkaian percobaan, penelitian menemukan bahwa masyarakat kelas bawah lebih baik saat membaca emosi di wajah seseorang. Ini menjadi satu ukuran dari akurasi empati.

Tidak hanya itu saja, penelitian sebelumnya juga menyebutkan bahwa orang dengan status sosial ekonomi rendah lebih suka membantu dan dermawan. Jadi bukan hanya akurasi empati, tapi empati itu sendiri dapat ditingkatkan oleh keadaan.

Mahasiswa postdoctoral dari Universitas California, San Francisco Michael Kraus mengatakan lingkungan kelas bawah jauh berbeda dengan lingkungan kelas atas. Mereka harus merespon sejumlah kerentanan dan ancaman sosial yang datang sehingga lebih peka terhadap emosi.

Rekan penulis, seorang profesor psikologi di University of California, Berkeley Dacher Keltner menyetujui pendapat tersebut. Hal ini karena orang dalam kelas sosial ekonomi rendah mendefinisikan hidup mereka oleh ancaman baik lingkungan, institusi dan orang lain. Salah satu strategi adaptif untuk menanggapi ancaman ini adalah dengan waspada dan hati-hati terhadap orang lain.

Dalam studi ini, Kraus dan rekannya melakukan tiga percobaan yang berbeda. Yang pertama dengan melibatkan karyawan sebuah universitas. Diantaranya ada yang bergelar sarjana dan ada yang tidak. Pendidikan berkaitan dengan status pekerjaan seseorang dan digunakan sebagai ukuran untuk kelas sosial. (lebih…)



Penyandang Tuna Grahita dianaktirikan Dibandingkan Penyandang Cacat lain

JAKARTA Pemenuhan hak hidup dan kesempatan penyandang tuna grahita (disabilitas intelektual) di Indonesia dinilai sangat menyedihkan dibanding tiga kelompok penyandang cacat lain, yaitu, tuna rungu, tuna daksa dan tuna netra.

Padahal terdapat sekitar 6 juta orang (2,75 persen) populasi tuna grahita di sini.

Sebagian besar dari mereka tidak memperoleh pendidikan dan pelatihan yang layak. Imbasnya, di saat dewasa, tidak ada yang tahu mereka akan disalurkan kemana agar dapat hidup mandiri dan tidak selalu tergantung pada orang lain,” ujar Sekjen Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial, Dr Rohadi Haryanto.

Menurut dia, masih banyak masyarakat berpandangan  keterbelakangan mental tidak bisa diberdayakan dan hanya dianggap sebagai beban. Padahal, sambungnya,  pemikiran tersebut jelas keliru. “Sejatinya anak-anak tersebut memiliki ketrampilan bekerja dalam bidang tertentu, yang bahkan bisa lebih kemampuannya dibanding oleh manusia normal ketika dilatih,” tutur Rohadi.

Ketua Umum Federasi Nasional Untuk Kesejahteraan Cacat Mental (FNKCM), Sunartini Hapsara menambahkan, saat ini sebagian penyandang disabilitas intelektual lebih banyak tinggal di panti-panti dalam waktu yang sangat lama. Tinggal di panti, sebut Sunartini tentu tidak jelek, namun untuk dapat berkembang, mereka harus dapat berbaur dengan masyarakat seperti penyandang cacat lainya.

Pendapat senada juga disampaikan Frieda Mangunsong, Psikolog dari Fakultas Psikologi UI. ”Penderita cacat mental perlu mendapat perhatian khusus, agar tumbuh percaya diri dan menjadi manusia produktif,” sebutnya. (lebih…)