Archive for the ‘Nusantara’ Category


Seiring dengan adanya kurikulum baru, menurut sumber terdekat yang kebetulan memiliki profesi sebagai pengajar; kata beliau generasi Indonesia sekarang ini dan yang akan datang sudah disuguhi dengan pembodohan dan penggelapan sejarah jati diri tentang dimana mereka menjejakkan kaki. Terbukti menurut sumber, sengaja dihilangkannya beberapa point materi pembelajaran yang mungkin dulu begitu ditekankan khususnya masa-masa angkatan saya 1992-2002 yakni PSPB atau PENDIDIKAN SEJARAH PERJUANGAN BANGSA. Dan generasi kita sekarang dijejali dengan slogan “SEKOLAH BERSTATUS INTERNASIONAL-lah, atau kurikulum Berstandar Internasional-lah”. Yang pasti kata beliau lagi, “BUAT APA KITA ATAU GENERASI KITA JADI WONG PINTER TAPI KEBLINGER NGIKUTI SEGALA TETEK BENGEK YANG BERBAU INTERNASIONAL, TAPI LUPA DIRI, AKHIRNYA PEMBODOHAN KARAKTER, LAMA-LAMA HILANG JIWA KEBANGSAAN DAN NASIONALISME GENERASI KITA NANTI”.

Itulah sepenggal ungkapan dari teman saya, dan memang dari dalam hati saya sendiri yang kebetulan bergelut di dunia Penerbitan, mau tak mau harus mengakuinya… Oleh karena itu sekilas saja, mari kita flashback kebelakang menengok sejarah gemilang Indonesia Tercinta kita. Meskipun memang kalo kita tengok kebelakang juga, banyak FAKTA SEJARAH YANG DIBENGKOKKAN (itupun kebenarannya belum 100%), tapi YA JANGAN SEMUA TRUS PELAN-PELAN DIHAPUS GITU, towww…hehhh…

Tahukah sobat, bagaimana sih negara kita kok lantas dinamakan INDONESIA? Bagaimana sejarahnya ya…??  Berikut sedikit wawasan yang dalam tanda kutip harusnya kita sematkan jauh di sanubari kita masyarakat element bangsa Indonesa (Kalo sampeyan merasa jadi orang / warga Indonesia, lho … kalo tidak ya … lain lagi itu urusannya).

Cerita Ramayan yang Melegenda karya Walmiki

Pada zaman purba, kepulauan tanah air disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai Nan-Hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa Indoa menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta Dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa). (lebih…)

Iklan

Menyambung postingan tentang asal-usul Garuda Pancasila, Lambang Kebesaran Republik kita Indonesia Tercinta, maka postingan berikut kembali membuka wawasan kita mengenai asal usu Sang Saka Merah Putih.

Warna merah-putih telah digunakan sejak zaman Kerajaan Majapahit sebagai bendera atau lambang. Sebenarnya tidak hanya kerajaan Majapahit saja yang memakai bendera merah putih sebagai lambang kebesaran. Sebelum Majapahit, kerajaan Kediri telah memakai panji-panji merah putih. Selain itu, bendera perang Sisingamangaraja IX dari tanah Batak pun memakai warna merah putih sebagai warna benderanya , bergambar pedang kembar warna putih dengan dasar merah menyala dan putih. Warna merah dan putih ini adalah bendera perang Sisingamangaraja XII. Dua pedang kembar melambangkan piso gaja dompak, pusaka raja-raja Sisingamangaraja I-XII. Di zaman kerajaan Bugis Bone, Sulawesi Selatan sebelum Aru Palakka, bendera Merah Putih, adalah simbol kekuasaan dan kebesaran kerajaan Bone.

Bendera Bone itu dikenal dengan nama Woromporang. Ketika terjadi Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830, di tengah-tengah pasukan Diponegoro yang beribu-ribu juga terlihat kibaran bendera merah-putih. Demikian juga di lereng-lereng gunung dan desa-desa yang dikuasai Pangeran Diponegoro, banyak terlihat kibaran bendera merah-putih.  (lebih…)


TENTU, kita bangsa Indonesia sudah tidak asing dengan Garuda Pancasila, Lambang Kebesaran Negara Republik Indonesia Tercinta (kalo tidak kenal, ya kebangetan, lebih baik jangan jadi orang Indonesia saja). Tapi mungkin tidak banyak yang tahu, siapakah sebenarnya otak jenius yang menciptakan maha karya sepanjang masa buat Indonesia tersebut. Berikut artikel yang didapatkan penulis dari beberapa sumber :

SEJARAH PENEMUAN LAMBANG NEGARA INDONESIA, GARUDA PANCASILA

Sultan Hamid II, salah satu Keturunan Ningrat Kesultanan Pontianak

Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Dia lah Sultan Hamid II yang berasal dari Pontianak.

Bagaimana prosesnya ? berikut kutipannya..

Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, Sultan Hamid II diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.

Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M.A. Pelaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabehi Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M. Yamin.

Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang. (lebih…)


Kebanyakan orang di dunia mengidentikkan Mumi dengan Mesir karena sejarah Mumi para Firaun di Mesir. Namun demikian, sejarah panjang mumi ternyata ada juga dalam hidup orang Papua. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada akhir tahun 1980-an sampai awal tahun 1990-an, telah ditemukan tujuh mumi di Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Yahukimo. Ketujuh Mumi tersebut berada di:

(a) Kecamatan Kurulu, utara Kota Wamena sebanyak sebanyak 3 mumi;
(b) Kecamatan Assologaima, barat Kota Wamena sebanyak 3 mumi,
(c) serta satu mumi di Kecamatan Kurima Kab. Yahokimo adalah satu-satunya mumi perempuan.

Dari ketujuh mumi tersebut, hanya mumi Werupak Elosak di Desa Aikima dan mumi Wimontok Mabel di Desa Yiwika – Kecamatan Kurulu – Kabupaten Jayawijaya yang sudah dikenal para wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang mengunjungi kabupaten Jayawijaya karena masyarakat pribumi membuka peluang kepada masyarakat di luar untuk menyaksikannya. Namun untuk melihat mumi-mumi tersebut, para wisatawan harus membayar.

(lebih…)


Hukum Cambuk

Penerapan Hukum/Syariat Islam di Aceh

Anis Saputra (24) dan Kiki Hanafilia (17) dicambuk masing-masing delapan kali di halaman Mesjid Al Munawarah, Jantho, Aceh Besar, Jumat (10/12), karena melanggar Syariat Islam.

Hukuman cambuk terhadap Anis dan Kiki diisaksikan ratusan warga. Hukuman dilakukan setelah Mahkamah Syariah Jantho, Kamis (9/12), memutuskan keduanya melanggar Perda Nomor 14/2003 tentang Khalwat atau Mesum. Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Deby Rinaldi, mengatakan, keduanya diputuskan masing-masing menerima delapan kali cambukan karena  berbuat mesum. Hal yang memberatkan, kata Deby, adalah keduanya sama-sama sudah menikah. “Yang laki-laki, Anis, sudah punya isteri yang saat ini hamil tujuh bulan dan tinggal di Kabupaten Aceh Timur, sedangkan yang perempuan juga punya suami, tetapi rumah tangganya sedang tidak akur,” katanya.

Keduanya diangkut ke lokasi pelaksanaan cambukan dengan mobil tahanan milik kejaksaan, kemudian dinaikkan ke panggung eksekusi dengan dikawal aparat Wilayatul Hisbah (Polisi Syariat). Usai dicambuk, keduanya dibawa ke Kejari Jantho bersama tim medis untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Meski sempat meringis kesakitan saat dirotan oleh algojo, Anis dan pasangan selingkuhnya Kiki terlihat tegar usai menjalani eksekusi. (lebih…)