Archive for the ‘Sosial Budaya’ Category


Suku rimba di Indonesia, satu lagi kekayaan budaya Indonesia

Orang Rimba disebut juga dengan suku Anak Dalam atau suku Kubu. Komuni atau suku Orang Rimba ini pada umumnya berada di hutan Bukit Barisan sekitar perbatasan antara Jambi dan Riau, tepatnya di  Bukit 12,  atau tempat lainnya perbatasan Bukit Barisan antara Jambi dan Sumbar di  Bukit 30, dekat  Pagaruyung.

Populasi mereka tidak jelas karena sulit sekali terdata karena mobilitas dan kerahasiaannya sangat tinggi. Menurut data saat ini jumlah mereka sekitar 250.000 orang, tapi saya kira bisa sedikit di atas angka tersebut dengan  alasan tingkat mobilitas dan kerahasiaan suku atau komunitas mereka sangat tinggi. Ke dua, jika kita berjalan jalur darat sekitar hutan tersebut sering kita temukan mereka dalam kelompok yang lumayan jumlahnya.

Orang Rimba pada awalnya sangat ditakuti oleh siapa pun karena anggapan angker dan kecurigaan mereka yang amat tinggi terhadap orang luar. Padahal seperti pengalaman banyak orang yang melewati jalur darat di areal berdekatan dengan orang Rimba tadi, mereka sama sekali tidak memperdulikan kita yang terbengong-bengong memandang mereka. Jadi tidak ada masalah dengan  mereka asalkan tidak bermaksud melecehkan langsung kehadapan mereka (sama seperti prinsip dasar suku lain, bukan?)

Beberapa Pasal Penting tentang Orang Rimba :

Orang Rimba dikenal sebagai orang yang hidupnya berpindah-pindah (Nomaden)  dari satu hutan ke hutan yang lain. Kehidupan orang Rimba sangat kompak, mereka menganut pasal-pasal yang ditetapkan oleh ketua kelompok (Temenggung). Beberapa pasal yang penting diantara terpenting adalah :

  • Orang Rimba mendapat tugas melindungi pendatang yang bermaksud dengan tujuan baik-baik dan dengan meminta izin lebih dahulu dari Temenggung.
  • Wanita hanya boleh pakai kain yang menutupi bagian perut ke bawah. Sedangkan bagian pusar ke atas dibiarkan begitu saja. Kendati demikian kita akan terpantau oleh mereka jika melihatnya dengan sangat serius. Resikonya : DENDA !.
  • Wanita Orang Rimba dianggap penting oleh komuninya. Wanitalah yang dianggap penentu pembagian warisan. Oleh karenanya wanita dianggap penting, tak boleh dilecehkan dan mendapat perlindaungan dari sejak kecil hingga dewasa. Sebetulnya hampir normal saja dengan ukuran kita, namun di sini ternyata wanitanya menjadi simbol kelompok tertentu.  (lebih…)
Iklan

Hukum Cambuk

Penerapan Hukum/Syariat Islam di Aceh

Anis Saputra (24) dan Kiki Hanafilia (17) dicambuk masing-masing delapan kali di halaman Mesjid Al Munawarah, Jantho, Aceh Besar, Jumat (10/12), karena melanggar Syariat Islam.

Hukuman cambuk terhadap Anis dan Kiki diisaksikan ratusan warga. Hukuman dilakukan setelah Mahkamah Syariah Jantho, Kamis (9/12), memutuskan keduanya melanggar Perda Nomor 14/2003 tentang Khalwat atau Mesum. Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Deby Rinaldi, mengatakan, keduanya diputuskan masing-masing menerima delapan kali cambukan karena  berbuat mesum. Hal yang memberatkan, kata Deby, adalah keduanya sama-sama sudah menikah. “Yang laki-laki, Anis, sudah punya isteri yang saat ini hamil tujuh bulan dan tinggal di Kabupaten Aceh Timur, sedangkan yang perempuan juga punya suami, tetapi rumah tangganya sedang tidak akur,” katanya.

Keduanya diangkut ke lokasi pelaksanaan cambukan dengan mobil tahanan milik kejaksaan, kemudian dinaikkan ke panggung eksekusi dengan dikawal aparat Wilayatul Hisbah (Polisi Syariat). Usai dicambuk, keduanya dibawa ke Kejari Jantho bersama tim medis untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Meski sempat meringis kesakitan saat dirotan oleh algojo, Anis dan pasangan selingkuhnya Kiki terlihat tegar usai menjalani eksekusi. (lebih…)