Tengku Amir Hamzah dan Gugur Harumnya di Tangan Sang Algojo; Bukti Pujangga Indonesia Yang Tak Hanya Pandai Merangkai Kata

Posted: 2 Februari 2011 in Kisah, Pendidikan, Sejarah, Tokoh, Wacana
Tag:, , , , ,

Sudah pernahkan sahabat semua mengenal atau minimal pernah mendengar nama ini. TENGKU AMIR HAMZAH. Saya harap sahabat sudah mengetahuinya. Tapi jika belum, mari simak siapa beliau. Dan berdasar cuplikan Judul Postingan di atas, apa yang menimpa dan terjadi padanya …?

Tengku Amir Hamzah

Nama Tengku Amir Hamzah adalah salah satu dari pujangga-pujangga yang pernah dimiliki Republik Indonesia. Namanya kini tercatat sebagai Pahlawan Nasional. Luar biasa. Siapa dan darimana Beliau ?

Tengku Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911. Beliau adalah seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Ia lahir dalam lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat) dan banyak berkecimpung dalam alam sastra dan kebudayaan Melayu.

Amir Hamzah bersekolah menengah dan tinggal di Pulau Jawa, pada saat pergerakan kemerdekaan dan rasa kebangsaan Indonesia bangkit. Pada masa ini ia memperkaya dirinya dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Asia yang lain.

Dalam kumpulan sajak Buah Rindu (1941) yang ditulis antara tahun 1928 dan tahun 1935 terlihat jelas perubahan perlahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi sajak yang lebih modern. Bersama dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane ia mendirikan majalah Pujangga Baru (1933), yang kemudian oleh H.B. Jassin dianggap sebagai tonggak berdirinya angkatan sastrawan Pujangga Baru. Kumpulan puisi karyanya yang lain, Nyanyi Sunyi (1937), juga menjadi bahan rujukan klasik kesusastraan Indonesia. Ia pun melahirkan karya-karya terjemahan, seperti Setanggi Timur (1939), Bagawat Gita(1933), dan Syirul Asyar (tt.).

Amir Hamzah tidak hanya menjadi penyair besar pada zaman Pujangga Baru, tetapi juga menjadi penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang. Di tangannya Bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik yang terus dihargai hingga zaman sekarang.

Walaupun merupakan seorang pangeran dan menduduki jabatan tinggi di Kesultanan Langkat,  dan pernah menjadi wakil pemerintah RI untuk daerah Langkat pada masa Revolusi Fisik (1945-1949), namun Amir Hamzah lebih banyak dikenal sebagai penyair modern Indonesia yang digelari “Raja Penyair Pujangga Baru”.GUGUR HARUM DI TANGAN ALGOJO  DALAM EKSEKUSI HUKUM  PANCUNG

Riwayat hidup penyair yang juga pengikut tarekat Naqsabandiyah ini ternyata berakhir tragis. Pada 29 Oktober 1945, Amir diangkat menjadi Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang berkedudukan di Binjai. Ketika itu Amir adalah juga Pangeran Langkat Hulu di Binjai.

Ketika Sekutu datang dan berusaha merebut hati para sultan, kesadaran rakyat terhadap revolusi menggelombang. Mereka mendesak Sultan Langkat segera mengakui Republik Indonesia. Lalu, Revolusi Sosial pun pecah pada 3 Maret 1946. Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap kurang memihak kepAda rakyat, termasuk Amir Hamzah. Pada dini hari 20 Maret 1946 mereka dihukum pancung. Dan Tengku Amir Hamzah menjadi Salah satu terhukumnya.

Namun, kemudian hari terbukti bahwa Amir Hamzah hanyalah korban yang tidak bersalah dari sebuah revuolusi sosial. Pada tahun 1975 Pemerintah RI menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.

KARYA-KARYA TENGKU AMIR HAMZAH

Jika Amir Hamzah tetap hanya seorang Pangeran Indera Putera atau Pangeran Langkat Hulu di Binjai, mungkin dia hanya akan diingat sebagai salah seorang korban dalam bencana sosial di Sumatera Timur Maret 1946. Tetapi dia terutama adalah seorang penyair – terbesar pada zamannya – dan lebih sering dikenal sebagai raja penyair ketimbang sebagai pangeran Kesultanan Langkat.

Amir mewariskan 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris, satu prosa liris terjemahan, 13 prosa dan satu prosa terjemahan. Jumlah seluruhnya adalah 160 tulisan. Jumlah itu masih ditambah dengan Setanggi Timur (puisi terjemahan) dan terjemahan Bhagawat Gita (Abrar Yusra, 1996:58) – serta, tentu saja, entah berapa tulisan yang tak sempat tersiar atau dipublikasikan. Amir Hamzah hanya menerbitkan dua kumpulan puisi tunggal, yaitu Buah Rindu (1941) dan Nyanyi Sunyi (1937).

1. Nyanyi Sunyi ( 25 puisi )

PADAMU JUA

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku gila, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu bukan giliranku
Mati hari – bukan kawanku ….


2. Buah Rindu ( 28 puisi )

BUAH RINDU 1

Dikau sambur limbur pada senja
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota.

Di tuan rama-rama melayang
Di dinda dendang sayang
Asalkan kanda selang-menyelang
Melihat adinda kekasih abang.

Ibu, seruku ini laksana pemburu
Memikat perkutut di pohon ru
Sepantun swara laguan rindu
Menangisi kelana berhati mutu.

Kelana jauh duduk merantau
Di balik gunung dewala hijau
Di seberang laut cermin silau
Tanah Jawa mahkota pulau ….

Buah kenanganku entah ke mana
Lalu mengembara ke sini sana
Haram berkata sepatah jua
Ia lalu meninggalkan beta.

Ibu, lihatlah anakmu muda belia
Setiap waktu sepanjang masa
Duduk termenung berhati duka
Laksana Asmara kehilangan seroja.

Bonda waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh kembang cempaka
Adakah ibu menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda?

Wah kalau begini naga-naganya
Kayu basah dimakan api
Aduh kalau begini laku rupanya
Tentulah badan lekaslah fani.

 

SELENGKAPNYA TENTANG KARYA-KARYA AMIR HAMZAH KUNJUNGI  http://www.tengkuamirhamzah.com

Amir Hamzah, seperti yang tercermin dalam karya-karyanya dan berbagai pembahasan tentang dirinya, adalah kontradiksi dan bahan diskusi yang tak habis-habis. Walaupun Amir tercatat sebagai pelopor kebudayaan modern Indonesia karena keikutsertaannya dalam majalah Pujangga Baru, tetapi hal itu tidak mencegah H.B. Jassin untuk menobatkannya sebagai wakil terakhir dari zaman (Melayu) lama (dalam Goenawan Mohamad (2005 dan dalam Yusra [ed.] [1996]).

Dalam pengantar singkat untuk puisi-puisi Amir yang terhimpun dalam Puisi Baru, kumpulan puisi para penyair Pujangga Baru yang baru diterbitkan pada 1946, STA mengungkapkan, “Pada Amir Hamzah, semangat baru bertemu dengan bahasa Melayu lama dalam bentuk, bunyi dan irama yang amat indahnya. Bahasanya payah dipahamkan oleh karena banyak memakai kata lama dan kata daerahnya. Dalam Nyanyi Sunyi, cinta dunia yang tidak sampai dilukiskannya mendapat keredaan di dalam nur Ilahi” .

Diskusi tentang Amir Hamzah dan karya-karyanya masih berlangsung sampai sekarang. Diskusi itu tidak akan selesai dalam waktu-waktu mendatang karena Amir telah memperoleh sebuah tempat dalam sejarah kebudayaan dan kesusastraan Indonesia. Dengan begitu, barangkali keinginan terbesarnya sebagai seorang penyair terpuaskan: selalu dibaca di segala zaman oleh banyak orang.

 

( di kutip dari http://www.tengkuamirhamzah.com, Rabu, 02 Februari 2011, 11.11 wib )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s