Realita Tuna Grahita di Indonesia yang Menyedihkan …

Posted: 13 Desember 2010 in Rakyat Kecil, Realita
Tag:

Penyandang Tuna Grahita dianaktirikan Dibandingkan Penyandang Cacat lain

JAKARTA Pemenuhan hak hidup dan kesempatan penyandang tuna grahita (disabilitas intelektual) di Indonesia dinilai sangat menyedihkan dibanding tiga kelompok penyandang cacat lain, yaitu, tuna rungu, tuna daksa dan tuna netra.

Padahal terdapat sekitar 6 juta orang (2,75 persen) populasi tuna grahita di sini.

Sebagian besar dari mereka tidak memperoleh pendidikan dan pelatihan yang layak. Imbasnya, di saat dewasa, tidak ada yang tahu mereka akan disalurkan kemana agar dapat hidup mandiri dan tidak selalu tergantung pada orang lain,” ujar Sekjen Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial, Dr Rohadi Haryanto.

Menurut dia, masih banyak masyarakat berpandangan  keterbelakangan mental tidak bisa diberdayakan dan hanya dianggap sebagai beban. Padahal, sambungnya,  pemikiran tersebut jelas keliru. “Sejatinya anak-anak tersebut memiliki ketrampilan bekerja dalam bidang tertentu, yang bahkan bisa lebih kemampuannya dibanding oleh manusia normal ketika dilatih,” tutur Rohadi.

Ketua Umum Federasi Nasional Untuk Kesejahteraan Cacat Mental (FNKCM), Sunartini Hapsara menambahkan, saat ini sebagian penyandang disabilitas intelektual lebih banyak tinggal di panti-panti dalam waktu yang sangat lama. Tinggal di panti, sebut Sunartini tentu tidak jelek, namun untuk dapat berkembang, mereka harus dapat berbaur dengan masyarakat seperti penyandang cacat lainya.

Pendapat senada juga disampaikan Frieda Mangunsong, Psikolog dari Fakultas Psikologi UI. ”Penderita cacat mental perlu mendapat perhatian khusus, agar tumbuh percaya diri dan menjadi manusia produktif,” sebutnya.

Sebagai psikolog, Frieda memaparkan banyak beredar mitos keliru di masyarakat soal penyandang tuna grahita. Sebagai contoh, ada mitos anak dengan disabilitas intelektual memiliki keterbatasan intelektual seumur hidup. Padahal fungsi intelektual mereka tidak statis. Dengan perintah dan tugas ringan-sedang secara terus menerus akhirnya pasti dapat dipahami oleh mereka.

Penyandang tuna grahita bisa bekerja sebagai karyawan di hotel atau villa sebagai housekeepingmisalnya. Atau bekerja di pabrik, restoran dan lain-lain. Mereka bisa juga diajari sebagai pewira usaha kecil seperti, penjahit, perajin rotan, pedagang batik, agen koran, fotografer dan lain-lain.

 

( sumber : aby/dms, http://www.pos kota.co.id >> Senin, 13 Desember 2010, 06.30 WIB)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s