Kenali Negeri-mu : Filosofi Suku Rimba atau Suku Anak

Posted: 12 Desember 2010 in Kabar Berita, Sosial Budaya
Tag:, , ,

Suku rimba di Indonesia, satu lagi kekayaan budaya Indonesia

Orang Rimba disebut juga dengan suku Anak Dalam atau suku Kubu. Komuni atau suku Orang Rimba ini pada umumnya berada di hutan Bukit Barisan sekitar perbatasan antara Jambi dan Riau, tepatnya di  Bukit 12,  atau tempat lainnya perbatasan Bukit Barisan antara Jambi dan Sumbar di  Bukit 30, dekat  Pagaruyung.

Populasi mereka tidak jelas karena sulit sekali terdata karena mobilitas dan kerahasiaannya sangat tinggi. Menurut data saat ini jumlah mereka sekitar 250.000 orang, tapi saya kira bisa sedikit di atas angka tersebut dengan  alasan tingkat mobilitas dan kerahasiaan suku atau komunitas mereka sangat tinggi. Ke dua, jika kita berjalan jalur darat sekitar hutan tersebut sering kita temukan mereka dalam kelompok yang lumayan jumlahnya.

Orang Rimba pada awalnya sangat ditakuti oleh siapa pun karena anggapan angker dan kecurigaan mereka yang amat tinggi terhadap orang luar. Padahal seperti pengalaman banyak orang yang melewati jalur darat di areal berdekatan dengan orang Rimba tadi, mereka sama sekali tidak memperdulikan kita yang terbengong-bengong memandang mereka. Jadi tidak ada masalah dengan  mereka asalkan tidak bermaksud melecehkan langsung kehadapan mereka (sama seperti prinsip dasar suku lain, bukan?)

Beberapa Pasal Penting tentang Orang Rimba :

Orang Rimba dikenal sebagai orang yang hidupnya berpindah-pindah (Nomaden)  dari satu hutan ke hutan yang lain. Kehidupan orang Rimba sangat kompak, mereka menganut pasal-pasal yang ditetapkan oleh ketua kelompok (Temenggung). Beberapa pasal yang penting diantara terpenting adalah :

  • Orang Rimba mendapat tugas melindungi pendatang yang bermaksud dengan tujuan baik-baik dan dengan meminta izin lebih dahulu dari Temenggung.
  • Wanita hanya boleh pakai kain yang menutupi bagian perut ke bawah. Sedangkan bagian pusar ke atas dibiarkan begitu saja. Kendati demikian kita akan terpantau oleh mereka jika melihatnya dengan sangat serius. Resikonya : DENDA !.
  • Wanita Orang Rimba dianggap penting oleh komuninya. Wanitalah yang dianggap penentu pembagian warisan. Oleh karenanya wanita dianggap penting, tak boleh dilecehkan dan mendapat perlindaungan dari sejak kecil hingga dewasa. Sebetulnya hampir normal saja dengan ukuran kita, namun di sini ternyata wanitanya menjadi simbol kelompok tertentu. 
  • Wanita Orang Rimba tidak boleh disentuh walau tanpa sengaja oleh orang asing.
  • Wanita Orang Rimba jika berpergian dengan kelompok wanitanya selalu ada pria yang mengawasi. Ditugaskan khusus walau tersamar karena posisinya beberapa puluh meter dari depan pria yang mengawal.
  • Tidak boleh melintasi orang Rimba yang sedang buang Hajat. Tidak tau saja bisa berakibat fatal, apalagi disengaja, hukumannya adalah bunuh atau denda dengan jumlah kain mewah yang amat mahal dan banyak menurut ukuran mereka.
  • Dlarang mengambil foto atau menggambar beberapa hal, yakni: Wanita Dewasa, Rumah dan Ternak  Orang Rimba. Alasannya:
  1. Mengambil gambar wanita dewasa selain tidak beretika juga sama dengan berharap sedang membuat “kenang-kenangan.”  Kenangan itu -mereka anggap- sebagai tanda bahwa obyek yang sedang diambil gambarnya akan meninggal. Mengenai hal yang satu ini pun sebetulnya tidak sepenuhnya seperti itu, karena kita dapat melihat salah satu gambar Tempo Doeloe yang saya ambil dari Google Wikipedia, ada photo lama yang memperlihatkan gambar orang Rimba lengkap satu keluarga. Tidak apa-apa !
  2. Rumah tak boleh di photo karena akan datang roh jahat mengetahui detail dan kondisi rumah.
  3. Hewan piaraan tak boleh digambar karena sama halnya mengharap akan segera mati.

Atas dasar kondisi itulah dan pasal lainnya yang tak kalah penting menyebabkan angka kriminalitas diantara komuni Orang Rimba sangat kecil. Tapi di lain sisi, tingkat kematian anak-anak dan wanita sangat tinggi karena masalah buruknya tingkat sanitasi dan masalah ibu yang meninggal saat melahirkan.

Masalah Sanitasi, Kesehatan dan Ekonomi.

Masalah sanitasi dan kesehatan memang menjadi salah satu momok atau hantu yang paling menakutkan di antara orang Rimba selain masalah tekanan moderniasasi. Masalah kesehatan ini terutama adalah banyaknya anak kecil pria dan wanita sekarang ini suka mengkonsumsi gula. Dan ironisnya ketika mau tidur malam mereka tidak mengenal gosok gigi lebih dahulu. Akibatnya gigi anak-anak kecil dan remaja sekarang di komuninas ini banyak yang terlihat ompong.

Selain musuh di atas, ada lagi musuh paling besar dalam kaitan modernisasi yaitu sebagaian besar komuni Orang Rimba suka merokok.. Anak-anak kecil usia 5 tahun hingga kakek-kakek semuanya hobi dan suka merokok dan boleh dikatakan perokok kelas berat, seperti halnya beberapa diantara Kompasianer juga barangkali (termasuk penulis sendiri walau tidak terlalu berat).

Darimana orang  Rimba ini memperoleh penghasilan? Tentu dari berkebun dan berburu. Mereka memiliki berhektar-hektar kebun termasuk kebun sawit yang kapan pun berbuah dapat ditukar ke pasar pinggir desa dengan Roti, Biskuit, Gula, Rokok bahkan ditukar dengan amat murah sebuah motor dengan 1 hektar kebun sawit.

Perlu di ketahui juga sebetulnya banyak juga orang Rimba yang sudah hidup lebih modern dan berasimilasi dengan lingkungan yang lebih modern di desa terdekat dengan pemukiman mereka di dalam rimba. Misalnya sekarang ini banyak juga ditemukan beberapa anak muda Orang Rimba yang membeli sepeda motor. Mereka menggunakan sepeda motor untuk gagah-gagahan saja, kenapa, karena motor itu setelah dibeli ternyata tidak dapat dipakai untuk dibawa pulang ke dalam hutan tempat pemukiman mereka, karena kondisi dan situasi jalan yang tidak bisa dilalui oleh motor. Jadi motor itu mereka titipkan pada teman terdekat di ujung desa yang berbatasan dengan pemukiman mereka di dalam hutan dekat Taman Nasional  Bukit Barisan.

 

(sumber : Abang Geutanyo, http://www.kompas.com >> Minggu, 12 Desember 2010, 01.47 WIB)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s